📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Menyambung postingan sebelumnya tentang: Bermain, Cara Anak Belajar Kehidupan. Berikut ini sambungannya, selamat membaca:
Arti Bermain Pada Anak
Menurut UU RI No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, disebutkan anak adalah orang yang berusia 0-21 tahun dan belum menikah. Anak-anak pada umumnya suka meniru sikap dan perilaku orang tua dalam suatu tahap-tahap perkembangan (tumbuh kembang) yang dipengaruhi oleh derajat emosionalnya.
Kita tahu, anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah manusia yang memiliki dunianya sendiri. Anak merupakan manusia yang masih mengalami perkembangan baik jasmani maupun kejiwaannya. Anak juga manusia yang masih harus mengembangkan segala potensi kognitif, afektif dan psikomotoriknya.
Lebih dari itu, anak adalah manusia yang belum dapat memikul tanggung jawabnya sendiri, belum dapat mengambil keputusan atas tanggung jawabnya sendiri. Jadi, anak itu ialah manusia yang belum dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang aman dan mana yang berbahaya baginya. Anak adalah manusia yang belum mencapai taraf kedewasaannya, masih dalam perkembangan.
Kondisi seperti itulah, harusnya yang perlu dipahami oleh orang dewasa sehingga keberadaan egonya tidak akan “membunuh” terhadap eksistensi dunia anak-anak (baca: bermain) yang mestinya dapat dinikmati oleh setiap anak-anak di manapun.
Di sini yang perlu dipahami dan disadari oleh kita bahwa bermain adalah dunia kerja anak usia pra sekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Dalam pasal (31) Konvensi Hak-Hak Anak (1990) disebutkan, “hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni”.
Pada konteks seperti itulah, pantas saja Fuad Hassan, mantan Menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa “…ada ‘pemaksaan’ anak untuk dilibatkan ke dalam proses belajar sedini mungkin. Kelompok Bermain, Taman Kanak Kanak semestinya tidak lantas beralih fungsi menjadi atau menyerupai sekolah, semata-mata karena terbawa oleh anggapan bahwa sebaiknya anak mulai bersekolah sedini mungkin. Kedua bentuk program itu tidak seharusnya berubah menjadi lembaga pendidikan yang melancarkan kegiatan skolastik dan bersifat prestatif dengan akibat menyusutnya kesempatan anak melibatkan diri dalam kegiatan bermain yang bisa dinikmatinya sebagai suasana rekreatif.”
Di sini penekanannya pada tahap perkembangan seorang anak. Yakni masa anak-anak itu diperlukan suatu pendekatan bermain. Dalam hal ini seperti ditegaskan Dra. Menuk Teguh Riyati pada seminar Multiple Intelligence: Modal Membentuk Anak Tangguh dan Sukses bahwa bermain merupakan cara anak belajar tentang kehidupan. Melalui kegiatan bermain, anak dapat bereksplorasi, menemukan jati diri dan mengembangkan ide-ide yang mereka miliki. Bermain juga bisa memperkecil stres anak.
Lebih lanjut diungkapkan Menuk, rasa ingin tahu anak bisa berkembang melalui kegiatan bermain. Bukan itu saja, bermain dapat membantu perkembangan bahasa dan sosio-emosional anak. Yang jelas patut disadari seorang anak itu menurut teori multiple intelligence, anak itu memiliki sembilan kecerdasan. Yakni kecerdasan linguistik, logis matematis, spasial, kinestik jasmani, dan musikal. Kemudian kecerdasan antarpribadi, intrapribadi, naturalis, dan moral. (Republika, 18/5/03).
Bersambung ke: Jenis Permainan Anak
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Arti Bermain Pada Anak
Menurut UU RI No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, disebutkan anak adalah orang yang berusia 0-21 tahun dan belum menikah. Anak-anak pada umumnya suka meniru sikap dan perilaku orang tua dalam suatu tahap-tahap perkembangan (tumbuh kembang) yang dipengaruhi oleh derajat emosionalnya.
Kita tahu, anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah manusia yang memiliki dunianya sendiri. Anak merupakan manusia yang masih mengalami perkembangan baik jasmani maupun kejiwaannya. Anak juga manusia yang masih harus mengembangkan segala potensi kognitif, afektif dan psikomotoriknya.
Lebih dari itu, anak adalah manusia yang belum dapat memikul tanggung jawabnya sendiri, belum dapat mengambil keputusan atas tanggung jawabnya sendiri. Jadi, anak itu ialah manusia yang belum dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang aman dan mana yang berbahaya baginya. Anak adalah manusia yang belum mencapai taraf kedewasaannya, masih dalam perkembangan.
Kondisi seperti itulah, harusnya yang perlu dipahami oleh orang dewasa sehingga keberadaan egonya tidak akan “membunuh” terhadap eksistensi dunia anak-anak (baca: bermain) yang mestinya dapat dinikmati oleh setiap anak-anak di manapun.
Di sini yang perlu dipahami dan disadari oleh kita bahwa bermain adalah dunia kerja anak usia pra sekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Dalam pasal (31) Konvensi Hak-Hak Anak (1990) disebutkan, “hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni”.
Pada konteks seperti itulah, pantas saja Fuad Hassan, mantan Menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa “…ada ‘pemaksaan’ anak untuk dilibatkan ke dalam proses belajar sedini mungkin. Kelompok Bermain, Taman Kanak Kanak semestinya tidak lantas beralih fungsi menjadi atau menyerupai sekolah, semata-mata karena terbawa oleh anggapan bahwa sebaiknya anak mulai bersekolah sedini mungkin. Kedua bentuk program itu tidak seharusnya berubah menjadi lembaga pendidikan yang melancarkan kegiatan skolastik dan bersifat prestatif dengan akibat menyusutnya kesempatan anak melibatkan diri dalam kegiatan bermain yang bisa dinikmatinya sebagai suasana rekreatif.”
Di sini penekanannya pada tahap perkembangan seorang anak. Yakni masa anak-anak itu diperlukan suatu pendekatan bermain. Dalam hal ini seperti ditegaskan Dra. Menuk Teguh Riyati pada seminar Multiple Intelligence: Modal Membentuk Anak Tangguh dan Sukses bahwa bermain merupakan cara anak belajar tentang kehidupan. Melalui kegiatan bermain, anak dapat bereksplorasi, menemukan jati diri dan mengembangkan ide-ide yang mereka miliki. Bermain juga bisa memperkecil stres anak.
Lebih lanjut diungkapkan Menuk, rasa ingin tahu anak bisa berkembang melalui kegiatan bermain. Bukan itu saja, bermain dapat membantu perkembangan bahasa dan sosio-emosional anak. Yang jelas patut disadari seorang anak itu menurut teori multiple intelligence, anak itu memiliki sembilan kecerdasan. Yakni kecerdasan linguistik, logis matematis, spasial, kinestik jasmani, dan musikal. Kemudian kecerdasan antarpribadi, intrapribadi, naturalis, dan moral. (Republika, 18/5/03).
Bersambung ke: Jenis Permainan Anak
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Tags
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books / KBM App — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook

PENA MILYARDER: Kisah, Rahasia Sukses, dan Panduan Menjadi Penulis 1 Milyar di KBM App dari Nol - Arda Dinata
Beli / Baca
STRATEGI PRODUKTIF MENULIS UPDATE - Arda Dinata
Beli / Baca
RAHASIA SANG PENULIS (Seri 1) - Arda Dinata
Beli / Baca
SERUNI: KETIKA DIAM BUKAN LAGI PILIHAN - Arda Dinata
Beli / Baca
Harga Diriku Kau Gadaikan demi Perempuan Itu - Arda Dinata
Beli / Baca
ISTRIKU TAK TAHU AKU PENGUSAHA EMAS - Arda Dinata
Beli / Baca
ISTRIKU BUKAN MALAIKAT, TAPI AKU JUGA TIDAK SUCI - Arda Dinata
Beli / Baca
WARISAN MIMPI TERLARANG - Arda Dinata
Beli / Baca
RETAKAN RUMAH TANGGA: Sebuah Perjalanan Emosional yang Intim dan Mendalam - Arda Dinata
Beli / Baca
IKATAN BUKAN CINTA BIASA - Arda Dinata
Beli / Baca
HIJAB YANG BELUM SAMPAI KE HATI: Ketika Cinta Seorang Ustadz Menjadi Cermin yang Paling Kejam - Arda Dinata
Beli / Baca
DOA YANG TIDAK BUTUH SINYAL: Kisah Tiga Jiwa yang Tersesat di Era AI dan Menemukan Jalan Pulang di Bulan Ramadhan" - Arda Dinata
Beli / Baca
AL-WARID: JEJAK CAHAYA DI ANTARA DUA ZAMAN - Arda Dinata
Beli / Baca
MERAJUT CINTA ALLAH - Arda Dinata
Beli / Baca
TAMAN TAMAN KEBENINGAN HATI - Arda Dinata
Beli / Baca
SURGA PERKAWINAN - Arda Dinata
Beli / Baca
KELUARGA PENUH CINTA - Arda Dinata
Beli / Baca
SEKOLAH KEHIDUPAN - Arda Dinata
Beli / Baca
BERMESRAAN DENGAN KEBAIKAN - Arda Dinata
Beli / Baca
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk - Arda Dinata
Beli / BacaIdentifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / Baca
