📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BERAWAL dari mantapnya jalinan persahabatan dengan Allah, maka langkah selanjutnya adalah menjalin persahabatan dengan pribadinya sendiri, sebelum bentuk persahabatan dengan lainnya. Bagaimana caranya?
Bersahabat dengan pribadinya sendiri berarti kita memenuhi dan memahami setiap fitrah diri sebagai manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Yakni sebagai khalifah di muka bumi ini. Lagian, dalam pandangan Islam, setiap pribadi (manusia), lebih dahulu harus memperhatikan serta meneliti atas kejadian diri pribadinya sendiri. Misalnya, dari apa dia dijadikan dan apa tujuan serta ke mana ia akan kembali (baca: QS. 86: 5-7).
Berawal dari pengenalan (persahabatan) dengan diri sendiri ini, tentu sudah seharusnya tiap pribadi itu mampu memformulasikan persahabatan lainnya yang sesuai ridha-Nya. Sehingga melalui kesuksesan membangun persahabatan ini, akan mengantarkan kepada kesusksesan persahabatan lainnya di dunia.
Dalam hal ini, Asy-Syafi’i ra. memberi tuntunan bahwa tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya. Maka barangsiapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, ia pun adil. Artinya, bila orang ini adil dalam hak Allah SWT, maka dalam hakmu ia lebih utama baginya. Maka jadilah engkau termasuk orang yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan, karena Allah SWT disifatkan demikian dalam doa. “Ya Tuhan yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan.”
Pendeknya yang diridhai di sisi Allah adalah orang yang berakhlak dengan akhlak-Nya dan Dialah yang menutupi kejelekan dan mengampuni dosa-dosa manusia itu. Dalam konteks ini, iman seseorang tidak sempurna hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.
Hal itu berarti, pada tataran jalinan persahabatan dengan siapa dan dalam bentuk apa pun, tentu harus terlebih dahulu membangun terhadap kencintaan pada dirinya sendiri sesuai harapan-Nya. Baru kemudian kemulyaan akhlak dan iman diri manusia itu, dijalinkan kepada persahabatan terhadap pihak lainnya.
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com
Bersahabat dengan pribadinya sendiri berarti kita memenuhi dan memahami setiap fitrah diri sebagai manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Yakni sebagai khalifah di muka bumi ini. Lagian, dalam pandangan Islam, setiap pribadi (manusia), lebih dahulu harus memperhatikan serta meneliti atas kejadian diri pribadinya sendiri. Misalnya, dari apa dia dijadikan dan apa tujuan serta ke mana ia akan kembali (baca: QS. 86: 5-7).
Berawal dari pengenalan (persahabatan) dengan diri sendiri ini, tentu sudah seharusnya tiap pribadi itu mampu memformulasikan persahabatan lainnya yang sesuai ridha-Nya. Sehingga melalui kesuksesan membangun persahabatan ini, akan mengantarkan kepada kesusksesan persahabatan lainnya di dunia.
Dalam hal ini, Asy-Syafi’i ra. memberi tuntunan bahwa tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya. Maka barangsiapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, ia pun adil. Artinya, bila orang ini adil dalam hak Allah SWT, maka dalam hakmu ia lebih utama baginya. Maka jadilah engkau termasuk orang yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan, karena Allah SWT disifatkan demikian dalam doa. “Ya Tuhan yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan.”
Pendeknya yang diridhai di sisi Allah adalah orang yang berakhlak dengan akhlak-Nya dan Dialah yang menutupi kejelekan dan mengampuni dosa-dosa manusia itu. Dalam konteks ini, iman seseorang tidak sempurna hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.
Hal itu berarti, pada tataran jalinan persahabatan dengan siapa dan dalam bentuk apa pun, tentu harus terlebih dahulu membangun terhadap kencintaan pada dirinya sendiri sesuai harapan-Nya. Baru kemudian kemulyaan akhlak dan iman diri manusia itu, dijalinkan kepada persahabatan terhadap pihak lainnya.
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com
Tags
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca