📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Saling Memaafkan = Kebahagiaan
Oleh: Arda Dinata
PNS & Penulis di WebBlog MIQRA Indonesia
(http://miqra.blogspot.com)
Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan terhadap orang lain, baik disengaja maupun tidak. Begitu pun dalam kehidupan rumah tangga, antara suami, istri, dan anak-anak pernah terjadi ‘bentrok’ kecil-kecilan yang membuat tidak enak di hati. Dan kita menjadi bahagia, manakala di ujung ‘konflik’ dalam keluarga tersebut diakhiri dengan ungkapan saling memaafkan.
Saling memaafkan kesalahan itulah, yang terus menerus coba diterapkan dalam kehidupan rumah tangga kami. Lagi pula, saling memaafkan kesalahan ini termasuk di antara ajaran-ajaran Islam dalam keluarga.
Mengapa pola saling memaafkan ini coba kami terapkan dalam kehidupan keluarga? Alasannya singkat saja, selain menjalankan perintah ajaran Islam. Alasan lainnya ialah didasari atas pemikiran bahwa sangat wajar bila dua individu manusia bisa tidak bersepakat dalam beberapa hal.
Aplikasinya, dalam konteks kehidupan keluarga, maka dianjurkan bagi suami dan istri untuk memaafkan kesalahan masing-masing serta bersikap saling membahagiakan, menghindari konflik dan perdebatan. Dampak perilaku ini, biasanya setelah selang beberapa waktu, justru kecemasan-kecemasan akibat ‘konflik’ itu akan hilang, atau pihak yang bersalah akan merasa malu dan bahkan bisa menjadi terharu.
Berikut ini merupakan contoh yang pernah terjadi dalam keluarga kami. Suatu waktu, istri saya merasa kesal (ditambah mungkin karena merasa kecapaian), yaitu ketika istriku menegur kepada sang anak untuk segera melakukan shalat. Namun, anaknya tidak mau menurut. Akhirnya istriku menjadi ‘marah-marah’ sehingga anak menangis. Namun, sejurus kemudian, istriku sadar akan ‘kesalahan’ yang telah dilakukannya dan ia langsung meminta maaf sambil memeluk serta menangis. Ujungnya, di antara tangisan dan pelukan itu, ia membisikan kata-kata nasehat.
“Ibu melakukan itu, sebenarnya bukan karena benci dan betul-betul marah pada Teteh (panggilan akrab untuk anak putri kami-Pen). Tapi, ibu lakukan itu semata-mata demi kebaikan Teteh di kemudian hari, biar menjadi anak yang solehah…,” bisik istriku.
Potret kejadian tersebut, akhirnya berujung bukannya berupa tangisan
Kebencian dan kekesalan. Tapi, justru tangisan keharuan atas penyesalan rasa bersalah di antara istri dan anakku. Aku pun jadi terharu melihat kejadian tersebut.
Terkait dengan itu, maka pantas saja Husain ‘Ali Turkamani dalam buku Family: The Center of Stability (1988), mengungkapkan sepasang suami-istri yang bertindak atas dasar keyakinan bahwa siapa saja yang mudah melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain akan meningkatkan pahala dan derajatnya, dapat memainkan peranan efektif dalam menciptakan disiplin keluarga yang sehat, serta memperkuat hubungan di antara anggota-anggotanya.
Allah SWT sendiri dalam Al-Quran mengatakan, “…. Dan jika kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tagabun [64]: 14).
Akhirnya, kita berdoa semoga keluarga kita (suami-istri-anak) dibimbing oleh Allah SWT untuk dapat bersikap mudah memaafkan, berlaku murah hati, penuh kasih sayang dan diberi kesabaran dalam membangun kehidupan rumah tangga. Lagi pula, bukankah sikap dan kebiasaan tersebut, jelas-jelas akan membangun kedamaian, kesalehan dan kebahagiaan keluarga dalam kehidupan sehari-hari? Waallahu’alam.
Oleh: Arda Dinata
PNS & Penulis di WebBlog MIQRA Indonesia
(http://miqra.blogspot.com)
Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan terhadap orang lain, baik disengaja maupun tidak. Begitu pun dalam kehidupan rumah tangga, antara suami, istri, dan anak-anak pernah terjadi ‘bentrok’ kecil-kecilan yang membuat tidak enak di hati. Dan kita menjadi bahagia, manakala di ujung ‘konflik’ dalam keluarga tersebut diakhiri dengan ungkapan saling memaafkan.
Saling memaafkan kesalahan itulah, yang terus menerus coba diterapkan dalam kehidupan rumah tangga kami. Lagi pula, saling memaafkan kesalahan ini termasuk di antara ajaran-ajaran Islam dalam keluarga.
Mengapa pola saling memaafkan ini coba kami terapkan dalam kehidupan keluarga? Alasannya singkat saja, selain menjalankan perintah ajaran Islam. Alasan lainnya ialah didasari atas pemikiran bahwa sangat wajar bila dua individu manusia bisa tidak bersepakat dalam beberapa hal.
Aplikasinya, dalam konteks kehidupan keluarga, maka dianjurkan bagi suami dan istri untuk memaafkan kesalahan masing-masing serta bersikap saling membahagiakan, menghindari konflik dan perdebatan. Dampak perilaku ini, biasanya setelah selang beberapa waktu, justru kecemasan-kecemasan akibat ‘konflik’ itu akan hilang, atau pihak yang bersalah akan merasa malu dan bahkan bisa menjadi terharu.
Berikut ini merupakan contoh yang pernah terjadi dalam keluarga kami. Suatu waktu, istri saya merasa kesal (ditambah mungkin karena merasa kecapaian), yaitu ketika istriku menegur kepada sang anak untuk segera melakukan shalat. Namun, anaknya tidak mau menurut. Akhirnya istriku menjadi ‘marah-marah’ sehingga anak menangis. Namun, sejurus kemudian, istriku sadar akan ‘kesalahan’ yang telah dilakukannya dan ia langsung meminta maaf sambil memeluk serta menangis. Ujungnya, di antara tangisan dan pelukan itu, ia membisikan kata-kata nasehat.
“Ibu melakukan itu, sebenarnya bukan karena benci dan betul-betul marah pada Teteh (panggilan akrab untuk anak putri kami-Pen). Tapi, ibu lakukan itu semata-mata demi kebaikan Teteh di kemudian hari, biar menjadi anak yang solehah…,” bisik istriku.
Potret kejadian tersebut, akhirnya berujung bukannya berupa tangisan
Kebencian dan kekesalan. Tapi, justru tangisan keharuan atas penyesalan rasa bersalah di antara istri dan anakku. Aku pun jadi terharu melihat kejadian tersebut.
Terkait dengan itu, maka pantas saja Husain ‘Ali Turkamani dalam buku Family: The Center of Stability (1988), mengungkapkan sepasang suami-istri yang bertindak atas dasar keyakinan bahwa siapa saja yang mudah melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain akan meningkatkan pahala dan derajatnya, dapat memainkan peranan efektif dalam menciptakan disiplin keluarga yang sehat, serta memperkuat hubungan di antara anggota-anggotanya.
Allah SWT sendiri dalam Al-Quran mengatakan, “…. Dan jika kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tagabun [64]: 14).
Akhirnya, kita berdoa semoga keluarga kita (suami-istri-anak) dibimbing oleh Allah SWT untuk dapat bersikap mudah memaafkan, berlaku murah hati, penuh kasih sayang dan diberi kesabaran dalam membangun kehidupan rumah tangga. Lagi pula, bukankah sikap dan kebiasaan tersebut, jelas-jelas akan membangun kedamaian, kesalehan dan kebahagiaan keluarga dalam kehidupan sehari-hari? Waallahu’alam.
Tags
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca