📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Orientasi pada Kualitas
Oleh: ARDA DINATA
KUALITAS merupakan lambang prestise dalam kehidupan manusia. Sejarah manusia sangat bervariasi dengan karakteristik tersendiri. Tak ada manusia yang sama. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Kondisi ketidaksamaan manusia dalam segi kualitas hidup dan kesejahteraan ini akan tergantung terutama dalam tingkat maupun efektivitas perjuangan mereka untuk mengoptimalkan potensi diri. Pendeknya, sejarah manusia sesungguhnya merupakan irama perjuangan hidupnya.
Untuk mencapai manusia berkualitas baik, manusia perlu meningkatkan diri menjadi apa yang diistilahkan sebagai manusia seutuhnya, manusia paripurna atau insan kamil. Yakni manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT; manusia yang memiliki kecerdasan dan kemampuan tertentu; serta manusia yang memiliki jiwa pembelaan terhadap kemurnian orientasi. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku, wajahku, orientasiku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tunduk kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al An’am: 79)
Bermodalkan orientasi pada kualitas, terbukti kaum muslimin pada masa lampau telah berjaya lebih dari tujuh abad memegang dan mengendalikan peradaban. Yakni sebuah peradaban manusia yang belum pernah ada tandingannya. Pertanyaannya, jika pada masa lampau kaum muslimin pernah berjaya (baca: berkualitas), mengapa kita sekarang tidak belajar dari mereka?
Kita tahu bahwa hidup manusia terbentuk dari sebuah penciptaan yang sungguh berkualitas. Setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berkualitas bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk paripurna, dilengkapi akal untuk berpikir, nafsu untuk berkembangbiak dan naluri untuk berbuat sesuatu. Itulah ciri khas yang membedakan manusia dengan hewan.
Namun demikian, keparipurnaan manusia diapit dengan kekurangan. Dr Yaswirman M.A. mengungkapkan bahwa para ahli jiwa hanya berhasil mengungkapkan gejala-gejala jiwa saja (baca: berpadunya jiwa dengan fisik dalam diri manusia). Yakni adanya pikiran, perasaan, dan kehendak yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Kondisi pikiran yang galau akan mengurangi keinginan, perasaan yang gunjang melemahkan pikiran, dan kehendak yang menggebu-gebu merusak pikiran. Kemampuan untuk menetralisir cara kerja gejala-gejala jiwa itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk paripurna. Bagi yang tidak bisa menetralisirnya, maka derajat mereka akan dijatuhkan ke tingkat paling rendah (asfala saafiliin). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami jatuhkan derajatnya ke tingkat yang terendah.” (QS. At-Tin: 4-5).
Di sinilah pentingnya sebuah tindakan dari pola pikir berupa pemahaman akan kualitas yang perlu dilakukan oleh setiap muslim. Karena kendati diciptakan sebagai makhluk paripurna, namun tidak semua manusia menyadari hal itu, sehingga ada yang hanyut dengan kedzaliman, kebatilan, kemaksiatan dan dikendalikan oleh alam. Artinya kunci keparipurnaan itu baru bisa dirasakan apabila potensi pikiran, keinginan dan kehendak tersebut kita isi dan pergunakan sebagaimana mestinya di bawah kendali kemauan Allah.
Akhirnya, sungguh indah dan beruntung manakala kita mampu melakukan pemahaman akan pentingnya kualitas dalam menjalankan proses kehidupan ini. Dan potensi itu terbentang luas di hadapan kita. Selanjutnya terserah Anda? Wallahu a’lam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Oleh: ARDA DINATA
KUALITAS merupakan lambang prestise dalam kehidupan manusia. Sejarah manusia sangat bervariasi dengan karakteristik tersendiri. Tak ada manusia yang sama. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Kondisi ketidaksamaan manusia dalam segi kualitas hidup dan kesejahteraan ini akan tergantung terutama dalam tingkat maupun efektivitas perjuangan mereka untuk mengoptimalkan potensi diri. Pendeknya, sejarah manusia sesungguhnya merupakan irama perjuangan hidupnya.
Untuk mencapai manusia berkualitas baik, manusia perlu meningkatkan diri menjadi apa yang diistilahkan sebagai manusia seutuhnya, manusia paripurna atau insan kamil. Yakni manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT; manusia yang memiliki kecerdasan dan kemampuan tertentu; serta manusia yang memiliki jiwa pembelaan terhadap kemurnian orientasi. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku, wajahku, orientasiku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tunduk kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al An’am: 79)
Bermodalkan orientasi pada kualitas, terbukti kaum muslimin pada masa lampau telah berjaya lebih dari tujuh abad memegang dan mengendalikan peradaban. Yakni sebuah peradaban manusia yang belum pernah ada tandingannya. Pertanyaannya, jika pada masa lampau kaum muslimin pernah berjaya (baca: berkualitas), mengapa kita sekarang tidak belajar dari mereka?
Kita tahu bahwa hidup manusia terbentuk dari sebuah penciptaan yang sungguh berkualitas. Setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berkualitas bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk paripurna, dilengkapi akal untuk berpikir, nafsu untuk berkembangbiak dan naluri untuk berbuat sesuatu. Itulah ciri khas yang membedakan manusia dengan hewan.
Namun demikian, keparipurnaan manusia diapit dengan kekurangan. Dr Yaswirman M.A. mengungkapkan bahwa para ahli jiwa hanya berhasil mengungkapkan gejala-gejala jiwa saja (baca: berpadunya jiwa dengan fisik dalam diri manusia). Yakni adanya pikiran, perasaan, dan kehendak yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Kondisi pikiran yang galau akan mengurangi keinginan, perasaan yang gunjang melemahkan pikiran, dan kehendak yang menggebu-gebu merusak pikiran. Kemampuan untuk menetralisir cara kerja gejala-gejala jiwa itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk paripurna. Bagi yang tidak bisa menetralisirnya, maka derajat mereka akan dijatuhkan ke tingkat paling rendah (asfala saafiliin). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami jatuhkan derajatnya ke tingkat yang terendah.” (QS. At-Tin: 4-5).
Di sinilah pentingnya sebuah tindakan dari pola pikir berupa pemahaman akan kualitas yang perlu dilakukan oleh setiap muslim. Karena kendati diciptakan sebagai makhluk paripurna, namun tidak semua manusia menyadari hal itu, sehingga ada yang hanyut dengan kedzaliman, kebatilan, kemaksiatan dan dikendalikan oleh alam. Artinya kunci keparipurnaan itu baru bisa dirasakan apabila potensi pikiran, keinginan dan kehendak tersebut kita isi dan pergunakan sebagaimana mestinya di bawah kendali kemauan Allah.
Akhirnya, sungguh indah dan beruntung manakala kita mampu melakukan pemahaman akan pentingnya kualitas dalam menjalankan proses kehidupan ini. Dan potensi itu terbentang luas di hadapan kita. Selanjutnya terserah Anda? Wallahu a’lam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca