📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Nurani Kedamaian
Oleh: ARDA DINATA
Betapa bahagianya kita menyaksikan adanya perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pihak pemerintah berdasarkan hasil dari sebuah diplomasi. Namun belakangan ternyata, perjanjian tersebut diwarnai kekecewaan. Irian Jaya juga masih memendam masalah, demikian juga Ambon. Artinya, kegalauan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih terancam. Untuk itulah, semua pihak patut menyadari pentingnya “nurani kedamaian” dalam hidup berbangsa ini. Dan kalau tidak, kapan kita membangun bangsa ini?
Adanya perpecahan dan ketidak damaian di wilayah NKRI, penyebabnya berawal dari kesenjangan ekonomi-sosial. Wujudnya bisa adanya ketidak adilan di setiap elemen, kesombongan merajalela, kedengkian, cinta kelompok yang berlebihan, dan keserakahan.
Hemat kami, kesadaran potensi itulah yang harus dikedepankan oleh semua pihak dan elemen bangsa. Yang selanjutnya, masing-masing elemen hendaknya komitmen terhadap aktualisasi “nurani kedamaian” sebagai wujud penghalang dari bahasa kekerasan dan permusuhan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin NKRI ini menjadi damai di atas ridha-Nya.
Indonesia adalah negara yang penduduknya sebagian besar umat Islam. Sehingga umat ini memegang peranan penting dalam terwujudnya kedamaian. Kuncinya kita harus mempunyai tekad berdamai, semangat bersaudara, semangat bertabayun, semangat berjuang demi kemajuan bersama. Dan yang lebih penting dari itu, adalah kita harus mampu mengaktualisasikan secara nyata atas Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua pihak. Langkahnya, umat harus mencontoh Rasulullah Saw., diantaranya berupa memulai dengan nasehat baik, dengan berperilaku yang baik, atau dengan tindakan yang menjadikan orang tertarik pada kita.
Di sini, Allah menyatakan dalam firman-Nya.”Serulah kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik.” (QS.16: 125). Selain itu, bukankah Allah juga bersifat Maha Rahman dan Maha Rahim?? Artinya sungguh mustahil, Allah yang mempunyai sifat Maha Sayang dan Maha Kasih tersebut, menurunkan hukum-hukum bagi manusia yang bertentangan dengan sifat-sifat-Nya. Buktinya, Allah dalam QS. Anbiya: 107, menyebutkan: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad Saw), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Prinsip perdamaian dalam Islam bertitik tolak dari akidah (iman kepada Allah). Kita harus yakin bahwa bila manusia mengikuti syariah Allah maka perdamaian di muka bumi bisa dijamin, karena perdamaian dalam Islam berkaitan erat dengan keyakinan akan kepercayaan terhadap-Nya. Sehingga tidaklah basa basi, kalau Islam sangat memperhatikan kedamaian. Sebab dengan kedamaian, kita dapat beribadah dengan baik, membangun peradaban, berhubungan harmonis sesama manusia, dan mewujudnya manusia sebagai khalifah di bumi ini.
Konsekuensi dari kesadaran sebagai wakil Allah yang menjamin kedamaian sesama manusia, maka terlebih dahulu kita harus paham betul akan sesuatu yang disukai oleh manusia. Yakni pada dasarnya manusia itu: senang membantu orang lain; menghendaki citra pribadinya dapat diterima orang lain; senang bila dirinya dibutuhkan; senang dipuji; senang memilih; tidak mau dipermalukan; senang melihat yang rapi dan bersih; senang bila menjadi penting; suka kepada pendengar yang baik; senang diberitahu; dan senang melihat wajah yang bersahabat. Dengan memahami hal ini, kami yakin setiap kita akan berjuang keras untuk menciptakan “nurani kedamaian” dalam dirinya.
Akhirnya, komitmen membangun kedamaian mulai 2003 ini adalah cita-cita luhur. Namun hal ini tidak akan terwujud bila yang kita gunakan adalah bahasa kekerasan, satelit prasangka buruk, dan trik-trik ketidak adilan serta kesombongan. Kedamaian akan terwujud bila setiap kita memiliki semangat [bersaudara, mencari solusi, dan maslahat bersama] yang dibalut dengan bekal keikhlasan, komitmen keadilan dan moralitas. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Oleh: ARDA DINATA
Betapa bahagianya kita menyaksikan adanya perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pihak pemerintah berdasarkan hasil dari sebuah diplomasi. Namun belakangan ternyata, perjanjian tersebut diwarnai kekecewaan. Irian Jaya juga masih memendam masalah, demikian juga Ambon. Artinya, kegalauan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih terancam. Untuk itulah, semua pihak patut menyadari pentingnya “nurani kedamaian” dalam hidup berbangsa ini. Dan kalau tidak, kapan kita membangun bangsa ini?
Adanya perpecahan dan ketidak damaian di wilayah NKRI, penyebabnya berawal dari kesenjangan ekonomi-sosial. Wujudnya bisa adanya ketidak adilan di setiap elemen, kesombongan merajalela, kedengkian, cinta kelompok yang berlebihan, dan keserakahan.
Hemat kami, kesadaran potensi itulah yang harus dikedepankan oleh semua pihak dan elemen bangsa. Yang selanjutnya, masing-masing elemen hendaknya komitmen terhadap aktualisasi “nurani kedamaian” sebagai wujud penghalang dari bahasa kekerasan dan permusuhan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin NKRI ini menjadi damai di atas ridha-Nya.
Indonesia adalah negara yang penduduknya sebagian besar umat Islam. Sehingga umat ini memegang peranan penting dalam terwujudnya kedamaian. Kuncinya kita harus mempunyai tekad berdamai, semangat bersaudara, semangat bertabayun, semangat berjuang demi kemajuan bersama. Dan yang lebih penting dari itu, adalah kita harus mampu mengaktualisasikan secara nyata atas Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua pihak. Langkahnya, umat harus mencontoh Rasulullah Saw., diantaranya berupa memulai dengan nasehat baik, dengan berperilaku yang baik, atau dengan tindakan yang menjadikan orang tertarik pada kita.
Di sini, Allah menyatakan dalam firman-Nya.”Serulah kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik.” (QS.16: 125). Selain itu, bukankah Allah juga bersifat Maha Rahman dan Maha Rahim?? Artinya sungguh mustahil, Allah yang mempunyai sifat Maha Sayang dan Maha Kasih tersebut, menurunkan hukum-hukum bagi manusia yang bertentangan dengan sifat-sifat-Nya. Buktinya, Allah dalam QS. Anbiya: 107, menyebutkan: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad Saw), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Prinsip perdamaian dalam Islam bertitik tolak dari akidah (iman kepada Allah). Kita harus yakin bahwa bila manusia mengikuti syariah Allah maka perdamaian di muka bumi bisa dijamin, karena perdamaian dalam Islam berkaitan erat dengan keyakinan akan kepercayaan terhadap-Nya. Sehingga tidaklah basa basi, kalau Islam sangat memperhatikan kedamaian. Sebab dengan kedamaian, kita dapat beribadah dengan baik, membangun peradaban, berhubungan harmonis sesama manusia, dan mewujudnya manusia sebagai khalifah di bumi ini.
Konsekuensi dari kesadaran sebagai wakil Allah yang menjamin kedamaian sesama manusia, maka terlebih dahulu kita harus paham betul akan sesuatu yang disukai oleh manusia. Yakni pada dasarnya manusia itu: senang membantu orang lain; menghendaki citra pribadinya dapat diterima orang lain; senang bila dirinya dibutuhkan; senang dipuji; senang memilih; tidak mau dipermalukan; senang melihat yang rapi dan bersih; senang bila menjadi penting; suka kepada pendengar yang baik; senang diberitahu; dan senang melihat wajah yang bersahabat. Dengan memahami hal ini, kami yakin setiap kita akan berjuang keras untuk menciptakan “nurani kedamaian” dalam dirinya.
Akhirnya, komitmen membangun kedamaian mulai 2003 ini adalah cita-cita luhur. Namun hal ini tidak akan terwujud bila yang kita gunakan adalah bahasa kekerasan, satelit prasangka buruk, dan trik-trik ketidak adilan serta kesombongan. Kedamaian akan terwujud bila setiap kita memiliki semangat [bersaudara, mencari solusi, dan maslahat bersama] yang dibalut dengan bekal keikhlasan, komitmen keadilan dan moralitas. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca